Selasa, 29 Mei 2012

AKSES INTERNET UNTUK SEKOLAH ( 2 )

Oleh,  YUSRI FAHMI, S.Ag., S.S., M.Hum.
Pustakawan STAIN Padangsidimpuan
( Bagian 2 dari 2 Bagian)
4.        Permasalahan Akses Informasi
Kritikan anggota Komisi DPR RI terhadap program penyediaan akses internet di sekolah di Indonesia sebetulnya didasarkan pada kondisi umum pendidikan kita saat ini. Hal ini memang tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kenyataannya internet itu tidak sertamerta dapat dipergunakan oleh para guru dan siswa secara maksimal apalagi bagi sekolah-sekolah yang terletak jauh di pedalaman yang belum banyak bersentuhan dengan teknologi informasi seperti internet. Karena itu, meskipun pemerintah mampu menghadirkan fasilitas akses internet di sekolah-sekolah tersebut, mereka akan mengalami permasalahan dan kendala dalam mengakses informasi dari internet. Paling tidak, mereka akan mengalami permasalahan ini pada tahun-tahun pertama program tersebut dijalankan. Adapun beberapa permasalahan akses informasi tersebut menurut Budi Rahardjo[1] adalah sebagai berikut :
1.      Kurangnya penguasaan bahasa Inggris.
Suka atau tidak suka, sebagian besar informasi di Internet tersedia dalam bahasa Inggris. Sedangkan penguasaan bahasa Inggris masih merupakan persoalan klasik bagi mayoritas siswa bahkan guru di negeri kita. Bagaimana mungkin mereka dapat mengakses informasi terutama informasi global yang mereka butuhkan jikalau bahasa Inggris mereka tidak kuasai. Pada era informasi saat ini, penguasaan bahasa Inggris merupakan suatu keharusan dan keunggulan sekaligus.
2.      Kurangnya sumber informasi dalam bahasa Indonesia.
Kita sadari bahwa tidak semua orang Indonesia akan belajar bahasa Inggris. Untuk itu sumber informasi dalam bahasa Indonesia harus tersedia. Saat ini belum banyak sumber informasi pendidikan yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Konsep berbagi (sharring), misalnya dengan membuat materi-materi pendidikan di Internet, belum merasuk. Inisiatif langka seperti ini sudah ada namun masih kurang banyak.
3.      Akses Internet masih mahal.
Meskipun sudah tersedia, akses ke Internet masih mahal. Namun hal ini diharapkan akan menjadi lebih murah di masa yang akan datang. Diharapkan akselerasi penurunan harga menjadi fokus utama dari Pemerintah. Mekanisme lain adalah adanya subsidi dari pemerintah untuk institusi pendidikan.
4.      Akses Internet masih susah diperoleh.
Beberapa daerah di Indonesia masih belum memiliki jalur telepon yang dapat digunakan untuk mengakses Internet.
5.      Guru belum siap.
Guru di Indonesia masih belum siap untuk menggunakan Internet sebagai bagian dari pengajarannya. Padahal guru merupakan salah satu pengguna yang dapat memanfaatkan Internet sebaik-baiknya. Salah satu contohnya adalah mencari soal-soal latihan untuk kelasnya. Jika setiap guru di Indonesia membuat dua (2) soal dan menyimpannya di Internet, maka akan ada ribuan bahkan bisa jutaan soal yang dapat digunakan untuk latihan di kelas. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa masih banyak guru yang tidak mampu menggunakan komputer yang merupakan perangkat utama internet.
Kritikan anggota Komisi X DPR RI tersebut karena itu dapat dipahami dalam konteks permasalahan tersebut di atas. Bahwa guru dan siswa akan dapat mengakses informasi secara optimal di internet apabila permasalahan tersebut mampu diatasi dengan baik. Komisi tersebut sebetulnya memberi suatu isyarat kepada pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional bahwa pemerintah hendaknya terlebih dahulu menggiatkan program-program yang dapat meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam hal penguasaan bahasa Inggris misalnya sebelum penyediaan fasilitas yang sudah barang tentu memerlukan dana yang sangat besar. Karena apabila sumber daya manusianya belum siap, maka fasilitas yang telah disediakanpun akan menjadi barang rongsokan. Ketersediaan akses informasi yang merupakan tujuan utama penyediaan internet di sekolah-sekolah menjadi tidak terwujud.

5.        Dampak Akses Informasi Berbasis Internet
Sebagai sebuah alat, internet sebetulnya tidak berdampak apa-apa kecuali setelah internet itu digunakan untuk suatu kepentingan tertentu. Sesuatu berdampak apakah positif maupun negatif setelah digunakan. Informasi yang disajikan oleh internet akan menjadi sangat bermanfaat apabila memang informasi yang dicarikan di internetpun adalah informasi yang bernilai positif seperti yang telah dicontohkan pada pembahasan sebelumnya. Banyak sekali informasi-informasi penting yang baik dan mencerahkan yang terdapat di internet. Sebaliknya, informasi yang disajikan oleh internet akan menjadi tidak berfaedah bahkan merusak norma-norma susila apabila memang informasi yang dicarikan di internet adalah informasi yang bernilai negatif. Menteri pendidikan Nasional tentu dalam hal ini bermaksud bahwa program penyediaan akses internet di sekolah itu dipergunakan seluas-luasnya untuk sesuatu yang bernilai positif dan konstruktif demi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Meskipun demikian, kecenderungan untuk mempergunakan internet untuk hal-hal yang negatif destruktif  di kalangan siswa tetap perlu diwaspadai. Ada beberapa jenis informasi yang terdapat di internet yang cenderung bernilai negatif dan berpotensi merusak moral yang perlu diwaspadai. Informasi tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Informasi yang tidak pantas.
Yang termasuk dalam kategori informasi yang tidak pantas adalah:
·         Materi pornografi. Ini mencakup gambar dan video untuk orang dewasa
·         Gambar-gambar kekerasan
·         Perjudian online
·         Informasi yang tidak benar dan akurat.
2.      Menjalin pertemanan dengan orang asing (strangers). Dengan banyaknya fasilitas di internet yang memungkinkan membentuk suatu pertemanan di dunia maya, maka orang-orang yang berniat buruk berpura-pura menjalin pertemanan dengan tujuan tertentu.
3.      Menjadi korban cyberbullying. Cyberbullying adalah penggunaan teknologi online untuk mengganggu dan mengintimidasi orang lain. Hal itu bisa dilakukan lewat email, chatroom, groups, dan lain-lain[2].
Jadi, antara manfaat dan kerugian yang diakibatkan dari akses informasi di internet adalah sangat tergantung pada niat dan tujuan orang yang mengakses informasi tersebut. Tetapi kalau kita timbang-timbang umpamanya, manfaat akses informasi di internet itu lebih berat daripada mudharatnya. karena itu, program penyediaan akses internet di sekolah-sekolah di Indonesia saya yakin akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada mudharatnya.
Pada era informasi saat ini dimana kesadaran informasi telah menjadi sesuatu yang maha penting, maka keberadaan internet  sangat diperlukan termasuk pada ranah pendidikan.

6.        Kesimpulan
Dari pembahasan singkat diatas dapat kita simpulkan bahwa program penyediaan akses internet untuk sekolah di Indonesia dari Kementerian Pendidikan Nasional merupakan satu terobosan yang sangat penting bagi peningkatan mutu pendidikan Bangsa Indonesia. Karena internet menyediakan informasi-informasi yang sangat berguna bagi guru dan siswa dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah.
Kendala dan hambatan dalam proses akses informasi di internet memang masih jamak ditemui di sekolah-sekolah terutama di daerah pedalaman yang belum tersentuh oleh perkembangan teknologi informasi. Karena itu, menjadi tanggung jawab pemerintah dan pihak sekolah untuk mengatasi kendala dan hambatan tersebut.
Terakhir, internet hanyalah sebuah alat sehingga sebetulnya tidak berdampak apa-apa kecuali setelah internet itu digunakan untuk suatu kepentingan tertentu. Informasi yang diakses di internet sangat bergantung pada niat dan tujuan orang dalam mengaksesnya. Wallahu’alam.

[1] Rahardjo, Budi. Op. cit.

0 komentar:

Poskan Komentar